Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Rabu, 01 Januari 2020

Sistem Mata Angin Pada Masyarakat Adat Gayo & Alas

Sistem Mata Angin Pada Masyarakat Adat Gayo & Alas


"Mata Angin Suku Alas"
C: Riduwan Philly

AEFARLAVA-Dalam geografi, mata angin merupakan panduan yang digunakan untuk menentukan arah. Biasanya arah mata angin digunakan semasa memandu arah atau mengemudi, semasa menggunakan kompas dan menggunakan peta.

Terdapat 8 arah mata angin utama di dunia yakni dengan urutan sebagai berikut (mengikuti arah jarum jam): Utara, Timur Laut, Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, dan Barat Laut.

Di Indonesia sendiri banyak sekali penyebutan khas tentang arah mata angin dan cara penentuan
arahnya juga berbeda-beda tergantung dengan keadaan alam dari suatu wilayah tersebut bisa dengan melihat letak gunung, laut, matahari terbit, sungai dll. contohnya saja pada masyarakat Bali, Mereka mengacu pada penampakkan alam yakni:  arah terbit matahari (Kangin), arah tenggelam matahari (Kauh), gunung (Kaja) dan laut (Kelod). Banyak terjadi kesalah pahaman dan kelucuan yang terjadi pada orang Bali, terkait konsep arah yang mereka anut ini. Orang Bali yang berasal dari utara, sering tersesat di Selatan. Begitu juga sebaliknya, sebab bagi orang Bali Utara Kaja (gunung) berarti Selatan. Sebaliknya bagi orang Bali Selatan, Kaja (gunung) berarti Utara. 


Sedangkan pada masyarakat jawa mengenal 8 arah mata angin yakni : Utara (Lor), Timur Laut (Lor Wetan), Timur (Wetan), Tenggara (Kidul Wetan), Selatan (Kidul), Barat (Kulon), Barat Daya (Kidul Kulon), Dan Barat Laut (Lor Kulon).


Tak hanya di Bali dan Jawa pada masyarakat Aceh atau lebih khususnya pada masyarakat Gayo & Alas juga mengenal sistem arah mata angin namun Pada Masyarakat Gayo menurut Rajab Bahry dalam seminar Asal Usul/Budaya Gayo di Blangkejeren tanggal 25-26 November 2014 (dikutip dalam situs online LintasGayo). ia Mengatakan bahwa Gayo sama sekali tidak mengenal konsep arah mata angin. Untuk mengindikasikan arah, masyarakata Gayo menggunakan konsep Uken (hulu), Toa (hilir), Bur (atas) dan Paluh (bawah).

Namun, lain halnya denga Masyarakat Adat Alas yang mendiami Kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas (Red-Khang Alas), lebih jelas dan kompleks dalam penyebutan arah mata angin, mereka mengenal 4 mata angin yakni utara (Jahe), Selatan (Julu), Barat (Ncuah), dan Timur (Kenggugung).


Ada indikasi mata angin masyarakat adat alas menggunakan acuan aliran Sungai (Red-Lawe), terbit dan tenggelamnya matahari?. seperti yang kita ketahui Sungai (Red-Lawe) banyak sekali di tanoh Alas dan mengaliri hampir sepanjang wilayah Kabupaten Aceh Tenggara. Utara (Jahe) adalah hulu dari sungai sedangkan pada Selatan (Julu) Adalah Hilir dari sebuah Sungai. Sedang Timur (Kenggugung) Dilihat dari Terbitnya matahari, begitu juga dengan Barat (Ncuah) Dilihat dari tenggelamnya matahari (RpY)



Sumber :

  1. http://lintasgayo.co/2014/11/29/rajab-bahry-gayo-tidak-mengenal-arah-mata-angin
  2. http://nem3x.heck.in/nama-nama-arah-mata-angin-dalam-bahasa-j.xhtml
  3. Rajab Bahry
  4. Aulia Azhar
  5. Sadrun Pinim S.H
  6. Wikipedia
Sejarah Terbentuknya Tanoh Alas (Versi Yakub Pagan, 1982)

Sejarah Terbentuknya Tanoh Alas (Versi Yakub Pagan, 1982)

Sungai Alas tampak dari Udara
Credit:Davidagr.blogspot,com
Lokasi : Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, Indonesia
Narasumber : Yakub Pagan
Tanggal : 20 Agustus 1982
Credit : Margaret J. Kartomi
Type : Soud Recording
Penulis Alur Cerita : Riduwan Philly
Tanggal : 09 September 2017
Genre : Mitologi, Sejarah

Ivalid Monkey- Menurut keterangan yang diberikan oleh Bapak Yakub Pagan yang mana suaranya telah direkam dalam type recording pada tanggal 20 Agustus 1982 oleh Margaret J. Kartomi. 

Dulunya, jauh sebelum kedatangan masyarakat Alas ke Tanah Alas yang sekarang wilayah tersebut termasuk kedalam wilayah administratif Kabupaten Aceh Tenggara merupakan wilayah yang dipenuhi oleh air yang membentuk sebuah danau yang luas menutupi hampir keseluruhan wilayah Aceh Tenggara dewasa ini.

Lanjut dari rekaman tersebut, Pak Yakub berkeyakinan bahwa masyarakat Tanah Alas yang mendiami wilayah Aceh Tenggara dewasa ini berasal dari salah satu wilayah di Aceh Selatan, ia meyakini berdasarkan cerita dari nenek moyangnya nama wilayah tersebut adalah danau laot bangko.

Kalau kita cari lebih dalam lagi di peta Indonesia danau laot bangko merupakan danau dengan wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan hutan hujan tropis yang termasuk ke dalam wilayah administratif desa ujung pandang, kecamatan Bakongan, Kabupaten Aceh Selatan.

Konon, dulunya di sekitaran danau ini berdiri kerajaan laut bangko yang sempat mencapai puncak kejayaannya tempo dulu, dengan raja terakhirnya bernama Raja Malinda dengan permaisurinya  Rindi, sepeninggalan sang Raja terakhir, kerajaan ini mengalami bencana banjir besar yang menenggelamkan kerajaan ini (Bukhari Dkk, 2008:12).

Akibat banjir bah besar yang melanda kerajaan laut bangko, membuat masyarakatnya menyebar ke wilayah-wilayah sekitarnya seperti Tanoh Alas, Singkil, Tanah Karo,Tanah Batak dan ada juga sebagian yang masih bertahan di Bakongan dengan mencari dataran yang lebih tinggi lagi, sehingga dipercayai sebab itulah yang menyebabkan adanya persamaan dan kemiripan bahasa Alas, bahasa Kluwat,Bahasa Singkil, Bahasa Karo, dan Bahasa Batak.

Senada dengan folklore (Sejarah Lisan) yang berkembang di Bakongan, menurut Pak Yakub Pagan, Danau Laot Bangko telah berdiri sebuah kerajaan yang cukup jaya pada masanya dengan seorang raja dengan tujuh orang anak, sang raja yang sudah berumur lanjut, mulai memikirkan siapa penerus yang  pantas untuk menggantikan dirinya sebagai raja, diapun meminta anak-anaknya yang berjumlah tujuh orang tersebut agar bersabar menunggu keputusan akhir darinya.

Keputusan akhir telah dibuat oleh sang Raja, maka sang raja dengan segala pertimbangannya menunjuk anak paling bungsu sebagai penerus takhta kerajaan Laut Bangko, namun. konflik keluarga pun timbul akibat penunjukkan yang diluar dari dugaan semua orang, sebagai mana lazimnya pada zaman dahulu, biasanya yang menjadi penerus takhta seorang raja yang berdaulat adalah putra mahkota atau anak paling tua dari seorang permisuri yang diakui oleh kerjaan.

Akibat penunjukkan tersebut, muncullah pembangkangan keenam orang anak raja yang lainnya, mereka beranggapan si bungsu tidak lebih layak menjadi seorang raja dari pada seekor anjing hitam yang mereka pelihara.

Akibat kegadohan antar sesama keluarga kerajaan tersebut membuat datanglah seorang Wali (makhluk gaib) dengan tujuan menghentikan pertikaian keluarga tersebut, wali tersebut  membawa sebuah tongkat yang ia tancapkan kedalam dalam perut bumi, lalu dengan sigap sang wali mencabut kembali tongkat tersebut, seketika muncullah air yang mengucur dengan sangat derasnya keluar dari tempat tongkat ditancapkan oleh sang wali.

Air yang mengalir dengan sangat deras tersebut telah menenggelamkan keseluruhan kerajaan laot bangko dengan sekejap mata saja, yang mengakibatkan sang raja tak mampu bertahan lagi dan hilang ditelan air bah yang mengalir deras tanpa hentinya.

Berbeda dengan sang raja, ketujuh anak raja berhasil menyelamatkan diri mereka masing-masing dengan bantuan barang-barang yang mereka temukan disekitar mereka, ada yang memegang papan bangko (menurut keterangan Pak Yakub, papan bangko adalah alat untuk sandaran menenun), sebagian anak lainnya memegang batang cibro, ada juga yang memegang batang kayu pine (Pinus), sebagian lagi menggunakan papan Lagan/penggilingan cabe (Konon zaman itu penggilingan cabe dalam ukuran yang besar), dan ada juga yang menggunaka kayu medang.

Alat-alat tersebut mereka gunakan untuk menyelamatkan diri dari air bah yang melanda kerajaan mereka, akibatnya ketujuh anak raja tersebut terpencar ke wilayah-wilayah yang berbeda-beda satu sama lain. ada yang ke Tanah karo, Tanah Tapanuli, dan ada juga yang terdampar di wilayah yang berbatasan dengan kabupaten Aceh Tenggara saat ini yakni lau baleng, namun  dari ketujuh anak tersebut belum ada satupun yang terdampar ke Tanah Alas.

Setelah beberapa tahun berlalu setelah pristiwa banjir bah itu terjadi terdengar kabar, bahwa Tanah Alas yang dulunya merupakan sebuah danau besar kini sudah mengering dan menjadi daratan yang sangat luas dan datar.

Maka dengan inisitif diri sendiri ketujuh orang anak raja laut bangko tersebut menuju daratan baru yang kini kita kenal dengan sebutan Tanah Alas, Pak Yakub Pagan meyakini bahwa, nama Tanah Alas sendiri berasal dari bahasa Karo dari anak raja laut bangko yang sudah lama bermukim di tanah karo, Alas sendiri berasal dari kata Ahh Las (Bahasa Karo yang artinya aduh panas) berunjuk kepada cuaca Tanah Alas yang cenderung lebih hangat daripada wilayah-wilayah karo yang lebih berhawa dingin (seperti Tiga binanga, Bukit Gundaling, brastagi, kaban jahe, dan daerah lainnya di dataran tinggi karo).

Namun versi lainnya mengatakan, bahwa kata Alas berasal dari Bahasa Gayo yang artinya adalah Tikar, berunjuk kepada wilayah Tanah Alas yang wilayahnya cenderung membentang datar seperti tikar berbeda dengan wilayah-wilayah dataran Tinggi Gayo yang cenderung bergunung-gunung dan sangat sulit menemukan dataran yang rata di sana.

Akhirnya ketujuh anak putra raja laut bangko tersebut berjumpa kembali di Tanah Alas, dan membentuk klan-klan atau marga-marga yang berunjuk kepada alat yang mereka gunakan untuk menyelamatkan diri dari air bah yang besar tersebut, anak yang menggunakan Lagan sebagai sandarannya menerjang air bah yang menghantam kerajaan laut bangko keturunannya dipanggil dewasa ini dengan marga pagan,  anak yang menggunakan papan bangko keturunan selanjutnya disebut dengan marga bangko, anak yang memakai kayu cibro keturunan selanjutnya disebut marga bruh, anak yang menggunakan kayu pine dikenal dengan marga pinim dan anak yang menggunakan kayu medang, keturunan selanjutnya dipanggil dengan marga sekedang.



Sumber :
  1. http://acehplanet.com/mengarungi-laut-bangko-di-bakongan/
  2. https://figshare.com/articles/Sumatra_61_Kutacane_Aceh/5064457
Jejak Sejarah Suku Batak Toba Sampai ke Kutacane Kabupaten Aceh Tenggara

Jejak Sejarah Suku Batak Toba Sampai ke Kutacane Kabupaten Aceh Tenggara


Suku Batak menarikan tarian Tor-tor by Toba muslim tour


KUTACANE-(Diposkan oleh Agaranews)Sejarah kedatangan suku bangsa Batak Toba ke Tanah Alas ini dikutip dari buku “Migran Batak Toba di Luar Tapanuli Utara: Sebuah Deskripsi” (OHS. Purba dan Elvis F. Purba: 1998, 141-162).

Pembukaan jalan dari Sidikalang ke Tanah Alas (1909-1914) menjadi sumber informasi bagi orang Batak Toba yang datang di kemudian hari. Informasi itu berasal dari para pekerja yang dibawa oleh Kolonial Belanda dari Samosir.

Frederich Sibarani dari Laguboti dan kawan-kawannya bekerja dalam bidang pembangunan jembatan di dalam wilayah Keujeuruen/Kerajaan Bambel. Tahun 1918 F. Sibarani dan keluarganya akhirnya menetap di Titi Panjang, Kute Prapat Hilir, Keujeuruen Batumbulan, di sana ia membuka usaha pertukangan. Kemudian hari, keluarga ini menjadi tempat penampungan sementara bagi pendatang baru dari Tapanuli.

Pionir Batak Toba tinggal di Keujeuruen Batumbulan. Raja Batumbulan saat itu, Teuku Sidun, merasa senang terhadap pendatang Batak Toba karena berhasil membuka persawahan. Berita tentang Tanah Alas semakin tersebar di kalangan petani Batak Toba dan mereka ingin memasuki Tanah Alas yang subur. Tahun 1919 David Sitohang memohon sepucuk surat dari Brinkschmidt, pendeta Jerman di Sidikalang, untuk Civiel Gezaghhebber di Kutacane agar mereka dapat membuka perkampungan di sana.

Tahun-tahun pertama dasawarsa 1920-an para petani Batak Toba semakin ramai berdatangan. Untuk mendapatkan tanah mereka terlebih dahulu membayar uang adat dan mendapatkan surat izin dari Keujeuruen. Tahun 1922 diperkirakan sudah ada 150 KK yang menetap di Tanah Alas. Mereka membuka hutan menjadi tempat tinggal dan lahan pertanian. Pihak Kolonial Belanda merasa senang dan memberi dukungan dan kemudahan bagi mereka untuk membuka perkampungan. Kampung pertama Batak Toba di Tanah Alas antara lain Bunga Melur, Mbacang Racun dan Lawe Kulok.

Tahun 1926 ada 8 kampung orang Batak Toba dan enam di antaranya sudah memiliki geuchik/penghulu dari suku sendiri. Saat itu diperkirakan ada 200 KK orang Batak Toba di Tanah Alas. Menurut sensus tahun 1930 terdapat 1.789 orang Batak Toba di Tanah Alas.


Tarian dari seluruh kesenian yang berkembang di Aceh Tenggara
C:Google


Keagresifan mereka membuat status sosial ekonominya lebih baik dibandingkan penduduk setempat. Raja Bambel, Teuku Durasa (Wan Ampuk) merasa khawatir dan merubah jalan pikirannya. Raja ini merasa kurang senang terhadap orang Batak Toba. Perubahan sikap raja ini menyebabkan para petani Batak Toba bersedia memulangkan tanah yang telah digarap dengan ganti rugi. Akhirnya, pada tahun 1936, Teuku Durasa ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Alor Setar, Kedah (Malaya).

Tahun 1934 jumlah orang Batak Toba di Tanah Alas mencapai 3.500 jiwa (2.730 orang Kristen dan 770 orang Islam). Orang Batak Toba yang beragama Islam tinggal di Lawe Petanduk dan Muara Keminjin.
Tahun-tahun selanjutnya arus perpindahan mayoritas ke selatan Lawe Alas. Jemaat Kristen Batak pun berkembang mulai dari Pulonas, Pulo Biang, Lawe Petanduk, Lawe Ponggas, Lawe Sigalagala, Kuta Tengah, dan lain-lain. Tanggal 24 Januari 1934 Pendeta Boas Simatupang ditempatkan untuk Tanah Alas dan bertempat tinggal di Pulonas. Guru-guru tamatan Sekolah Tinggi Sipoholon dikirim ke Rukahan, Salang Baru, Lawe Ponggas dan Lawe Sigalagala.

David Sitohang menjadi geuchik/penghulu di Lawe Sigalagala pada tahun 1934. Pada tanggal 1 April 1934 didirikan gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Lawe Sigalagala dengan areal seluas 1,5 Ha.Di Utara dan Selatan Tanah Alas kampung orang Batak Toba terus bertambah. Tak jarang sedikit demi sedikit tanah orang Alas beralih tangan ke orang Batak Toba.

Kurun waktu 1942-1945 petani-petani Batak Toba mulai memasuki seberang Lawe Alas. Akibat kekejaman Jepang yang memberlakukan romusha (kerja paksa), banyak orang Batak Toba melarikan diri ke Sidikalang dan Medan, walaupun anak dan isteri mereka masih tinggal di Tanah Alas. Tahun 1954 orang Batak Toba di Tanah Alas mencapai 14.790 jiwa.

Tahun 1974 jumlah penduduk Tanah Alas sebanyak 91.303 jiwa terdiri dari orang Alas (45%), Batak Toba (35%), Suku lain: Gayo, Batak Karo, Batak Mandailing, Singkil, Aceh, Minangkabau dan Jawa (20%).
Saat ini penduduk Aceh Tenggara berjumlah sekitar 184.000 jiwa, di mana suku bangsa Batak Toba termasuk dalam 3 suku utama yaitu Alas (55%), Batak Toba(17%) dan Gayo(14%). Sisanya terdiri dari suku bangsa Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Pakpak, Minangkabau, Aceh, Singkil, Jawa dan Nias.
Mayor Bahrin Yoga Sang Singa Medan Area dari Kutacane

Mayor Bahrin Yoga Sang Singa Medan Area dari Kutacane

Mayor Bahrin Yoga Via Historia.id


INVALID MONKEY (2 Januari 2020) Dengan senjata seadaanya, pejuang Aceh menebar teror terhadap tentara Belanda di Medan.

Kota Medan, pertengahan 1947. Di setiap sudut kota berseliweran plakat sayembara. "Siapa saja yang berhasil membawa kepala  walikota Bahrin, walikota Alamsyah, kapten Bejo dan kapten Nukum Sanany hidup atau mati dan menyerahkannya kepada Belanda, diberi hadiah sebesar F1000.Gulden

Nama pertama barangkali yang paling diburu sekaligus ditakuti pihak militer Belanda: Mayor Bahrin Yoga. Juga dalam sumber lainnya dipanggil Bahren.

"Ia jantan dan galak dalam pertempuran, bahkan pernah di panggil dengan sebutan Singa medan area,"Tulis tengku Abdul Karim Jakobi dalam Aceh Daerah Modal: Long March Ke Medan Area.

Bahrin termasuk rombongan pertama dari Aceh yang bertempur di Medan Area. Di Aceh Bahrin berkedudukan sebagai Komandan Batalion II Resimen Divisi Gajah II di Kutacane.

Longmaarch  menuju Medan dilakukan  sejak februari 1947, tak lama sesudah kota itu dikuasai Belanda. Dalam rombongan itu berasal dari pejuang-pejuang dari Gayo Lues dan Kutacane, Aceh Tenggara.

Di Medan, Bahrin menjadi komandan Batalion I Resimen I dari Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) yang bermarkas di Tuntungan, Medan Barat. RIMA merupakan resimen khusus yang dipersiapkan untuk membebaskan kota Medan dari badan militer Belanda. Dalam batalionnya, Bahrin lebih banyak menggunakan waktunya di depan pasukan bersama. Dalam bunga rampai Kisah Perjuangan Mempertahankan Daerah Modal Republik Indonesia dari Serangan Belanda , Batalion Bahrin kerap operasi di hari dengan hanya bersenjatakan parang atau senjata tajam lainnya.

Operasi yang dipimpin Bahrin biasanya dilakukan menjelang subuh bersama satu atau dua orang pembantu. Target operasinya adalah patroli tentara Belanda yang sedang lengah. Selain itu, penyergapan juga dilakukan dengan menyamar dan menyusup ke asrama serdadu Belanda.
“Dari sekian banyak operasi yang dilakukan, tak jarang berhasil menebas patroli Belanda dan mereka kembali biasanya dengan parang berlumuran darah,” tulis Jakobi yang merupakan veteran tentara pelajar dalam pertempuran Medan Area. Dari sinilah awal kisah lahirnya unit pasukan pembunuhan dingin “Parang Berdarah”, yang kemudian diangkat dan ditata kembali oleh Letnan Bustanil Arifin di dalam ruangan yang diberi nama “Kompi Parang Berdarah”.
Penggunaan parang bukan tanpa alasan. Menurut Bustanil Arifin dalam biografinya Beras, Koperasi, dan Politik Orde Baru karya Fachry Ali dkk, di dalam kompi itu hanya memiliki 17 buah senjata api dan selebihnya adalah parang dan kelewang.
Pada Agustus 1947, Panglima Divisi Gajah I, Kolonel Husein Yusuf mengangkat Walikota Bahrin menjadi komandan RIMA pasangan Walikota Teuku Cut Rachman yang gugur dalam tugas. Pengangkatan itu didasarkan pertimbangan yang Walikota Bahrin yang beroperasi di sekitar Tuntungan cukup berpengalaman dan disegani oleh patroli Belanda.
Hanya dua bulan saja Bahrinluas komandan RIMA. Walikota Bahrin ditembak mati oleh anak buah kepercayaannya, Letnan Satu Ahmad Ahman Bedus. Tragedi ini justru terjadi di markas Batalion Bahrin di Tuntungan. Setelah memutar nahas itu, Letnan Ahmad diinterogasi kemudian di penjara di Pemataang Siantar.
Motif pembunuhan misterius. Anggota Batalion Bahrin, termasuk di Jakobi, menjelang tertembaknya Bahrin, seorang wanita cantik dan tangguh yang kemudian menabur isu dan saling curiga antarpasukan. Wanita itu menyamar sebagai istri pemilik warung dalam kompleks pemukiman.
Dalam pertempuran Medan Area, Belanda menebar ratusan mata-mata ke pihak tentara Republik bahkan hingga ke pedalaman Aceh. “Sebagiannya terdiri dari wanita-wanita ayu yang mampu meringkus yang sudah mati di depan,” ujar Jakobi.

Penulis : Martin Sitompul
Sudah diterbitkan oleh: Historia.id (29 Agustus 2017)
4 Alat Transportasi Unik dari Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara

4 Alat Transportasi Unik dari Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara

INMONKEY - Kalau kita bercerita soal transportasi baik modren maupun tradisional di Indonesia, pasti akan sangat sulit kita cari nama yang sama antara satu daerah dengan daerah lainnya walaupun jenis transportasi tersebut sama saja dalam bentuk dan modelnya, contoh saja di Jawa dikenal yang namanya Delman yakni alat transportasi gerobak beroda dua yang ditarik oleh kuda yang mana penumpangnya berada dibelakang dan pak kusirnya didepan, di Sumatera sendiri atau lebih tepatnya di Sumatera Barat tidak mengenal Delman melainkan Bendi, di lombok sendiri disebut Cidomo.

Begitu juga dengan Transportasi Menggunakan mesin modren, Masing-masing daerah pasti mempunyai  ciri khas nama tersendiri seperti Angkot Padang (Sumbar), Labi-labi (Aceh), Bajai (Jakarta), Bentor (Medan), dll.

Memang di Aceh lebih dikenal alat transportasi umumnya dengan Labi-labi, eits tunggu dulu Labi-labi hanya berlaku di Aceh pesisir ya! di Aceh bahagian Tenggara-Selatan ( Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Gayo Lues, Kota Subulussalam dan Singkil), terdapat jenis transportasi lain yang tak kalah unik dari segi model dan penamaannya, kali ini kita akan membahas alat transportasi di Kabupaten Aceh Tenggara yang bahkan berlaku juga dikabupaten tetanggannya, berikut ulasannya :


Perahu di Sungai Alas
  1. Perahu Tradisional
    Tanoh Alas (Red-Aceh Tenggara) dari dulu sudah dikenal akan banyaknya sungai-sungai yang sangat deras, dan sumber mata air tawar yang akan sangat mudah kita jumpai di segala sudut di tanah subur yang dikelilingi Bukit barisan dan Gunung Leuser ini, jadi. tak heran sebelum datangnya alat transportasi modren ke Negeri Sepakat segenep ini, perahu adalah transportasi favorite kala itu untuk menjalankan roda perekonomian, dan juga untuk mendapatkan informasi keadaan yang sedang terjadi di luar Tanoh Alas terutama di Pelabuhan kota Singkil yang mana Sungai Alas melewati pelabuhan ini sampai ke Samudra Hindia. Hal ini dibuktikan dengan tulisan yang dibuat oleh  G.A. Fokker, 1939. yang mana dijelaskan bahwa pelabuhan Singkil merupakan tempat transit barang-barang yang akan diperdagangkan, yang berasal dari Tanoh Alas, Dairi, Simeulue, dan Pulau Banyak, demikian pula sebaliknya. dan diperkuat oleh catatan Residen Pootman, yang mengatakan Suku Gayo dan Alas adalah Suku yang mula-mula berdagang di Pelabuhan Singkil jauh sebelum Suku lain datang ke pelabuhan ini. menurut info yang saya dapatkan lamanya perjalanan dari Alas-Singkil melalui sungai Alas adalah 7 (Tujuh) hari 7 (Tujuh) Malam.

    Mobil Lawe by All Driver (Fb)


  2. Motor Lawe
    Motor Lawe (Red-Mobil air) adalah jenis kijang kapsul yang dimodifikasi untuk menganggut penumpang, jumlah penumpang bisa mencapai 20-an orang dengan posisi saling berhadapan. Motor lawe ini bisa dikatakan alat transportasi paling digemari masyarakat di aceh tenggara, terutama bagi kalangan Pelajar, dan juga pekerja. tidak ada yang tau pasti kapan jenis kendaraan empat roda masuk ke Aceh tenggara namun, tahun 80-an Camat dari Kecamatan Babussalam, Kabupaten Aceh Tenggara diketahui telah menggunakan Mobil jenis VW dalam melaksanakan tugasnya.

    Pasti anda bertanya-tanya, kenapa disebut motor lawe? apa karena mobil ini sering mengangkut air :D, tentu saja tidak. dalam penyebutan di Agara, mobil sering disebut dengan motor, berbeda dengan di jawa, motor diartikan sebagai Sepeda Motor. sedangkan penyebutan lawe dikarenakan, dulu trayek Motor lawe adalah hanya ke daerah-daerah yang berawallan dengan kata Lawe atau daerah bawah (Contoh : Lawe dua, lawe tanduk, lawe deski, lawe sigala-gala, dll) jadi knet Motor ini sering berteriak memanggil para calon penumpangnya dengan triakkan "Lawee, Laweee,lawee" Motor lawe ini juga dikenal dikabupaten Gayo Lues, Lau baleng (Kabupaten Karo), dan Kota Subulussalam dengan penyebutan yang berbeda.
    Becak Mesin by Google


  3. Becak Mesin
    Becak Mesin ini adalah andalan bagi para pelajar atau siswa yang rumahnya di sekitaran kota Kutacane. tak jauh berbeda dengan Bentor (Medan) Becak mesin adalah sepeda motor yang dimodif dengan ditambah bak disampingnya dengan jumlah penumpangnya max 3 orang, tarif untuk menaiki becak mesin ini berkisaran Rp. 4,000,00.- sampai Rp. 6,000,00.-
    Becak Dayung By Google


  4. Becak Dayung.
    Dulu diawal 2000-an sampai tahun 2006, Becak dayung mencapai kejayaannya dengan merajai jalanan Kota Kutacane, tetapi kini sangat sulit untuk kita mencari alat transportasi yang sangat sederhana ini menyisiri jalanan kota Kutacane, jumlahnya mungkin tak sampai 5 orang lagi yang masih setia mendayung. hal ini terjadi lantaran menjamurnya alat transportasi modren dan semakin banyaknya warga kutacane yang memiliki kendaraan sendiri. kini sisa-sisa kejayaan Becak dayung hanya bisa kita lihat di pasar-pasar untuk mengangkut belanjaan ibu-ibu yang baru pulang dari pasar.

    Sumber :

    1. Dirmanmanggeng
    2. Kecamatan Babussalam