Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Rabu, 01 Januari 2020

Mayor Bahrin Yoga Sang Singa Medan Area dari Kutacane

| Rabu, 01 Januari 2020
Mayor Bahrin Yoga Via Historia.id


INVALID MONKEY (2 Januari 2020) Dengan senjata seadaanya, pejuang Aceh menebar teror terhadap tentara Belanda di Medan.

Kota Medan, pertengahan 1947. Di setiap sudut kota berseliweran plakat sayembara. "Siapa saja yang berhasil membawa kepala  walikota Bahrin, walikota Alamsyah, kapten Bejo dan kapten Nukum Sanany hidup atau mati dan menyerahkannya kepada Belanda, diberi hadiah sebesar F1000.Gulden

Nama pertama barangkali yang paling diburu sekaligus ditakuti pihak militer Belanda: Mayor Bahrin Yoga. Juga dalam sumber lainnya dipanggil Bahren.

"Ia jantan dan galak dalam pertempuran, bahkan pernah di panggil dengan sebutan Singa medan area,"Tulis tengku Abdul Karim Jakobi dalam Aceh Daerah Modal: Long March Ke Medan Area.

Bahrin termasuk rombongan pertama dari Aceh yang bertempur di Medan Area. Di Aceh Bahrin berkedudukan sebagai Komandan Batalion II Resimen Divisi Gajah II di Kutacane.

Longmaarch  menuju Medan dilakukan  sejak februari 1947, tak lama sesudah kota itu dikuasai Belanda. Dalam rombongan itu berasal dari pejuang-pejuang dari Gayo Lues dan Kutacane, Aceh Tenggara.

Di Medan, Bahrin menjadi komandan Batalion I Resimen I dari Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) yang bermarkas di Tuntungan, Medan Barat. RIMA merupakan resimen khusus yang dipersiapkan untuk membebaskan kota Medan dari badan militer Belanda. Dalam batalionnya, Bahrin lebih banyak menggunakan waktunya di depan pasukan bersama. Dalam bunga rampai Kisah Perjuangan Mempertahankan Daerah Modal Republik Indonesia dari Serangan Belanda , Batalion Bahrin kerap operasi di hari dengan hanya bersenjatakan parang atau senjata tajam lainnya.

Operasi yang dipimpin Bahrin biasanya dilakukan menjelang subuh bersama satu atau dua orang pembantu. Target operasinya adalah patroli tentara Belanda yang sedang lengah. Selain itu, penyergapan juga dilakukan dengan menyamar dan menyusup ke asrama serdadu Belanda.
“Dari sekian banyak operasi yang dilakukan, tak jarang berhasil menebas patroli Belanda dan mereka kembali biasanya dengan parang berlumuran darah,” tulis Jakobi yang merupakan veteran tentara pelajar dalam pertempuran Medan Area. Dari sinilah awal kisah lahirnya unit pasukan pembunuhan dingin “Parang Berdarah”, yang kemudian diangkat dan ditata kembali oleh Letnan Bustanil Arifin di dalam ruangan yang diberi nama “Kompi Parang Berdarah”.
Penggunaan parang bukan tanpa alasan. Menurut Bustanil Arifin dalam biografinya Beras, Koperasi, dan Politik Orde Baru karya Fachry Ali dkk, di dalam kompi itu hanya memiliki 17 buah senjata api dan selebihnya adalah parang dan kelewang.
Pada Agustus 1947, Panglima Divisi Gajah I, Kolonel Husein Yusuf mengangkat Walikota Bahrin menjadi komandan RIMA pasangan Walikota Teuku Cut Rachman yang gugur dalam tugas. Pengangkatan itu didasarkan pertimbangan yang Walikota Bahrin yang beroperasi di sekitar Tuntungan cukup berpengalaman dan disegani oleh patroli Belanda.
Hanya dua bulan saja Bahrinluas komandan RIMA. Walikota Bahrin ditembak mati oleh anak buah kepercayaannya, Letnan Satu Ahmad Ahman Bedus. Tragedi ini justru terjadi di markas Batalion Bahrin di Tuntungan. Setelah memutar nahas itu, Letnan Ahmad diinterogasi kemudian di penjara di Pemataang Siantar.
Motif pembunuhan misterius. Anggota Batalion Bahrin, termasuk di Jakobi, menjelang tertembaknya Bahrin, seorang wanita cantik dan tangguh yang kemudian menabur isu dan saling curiga antarpasukan. Wanita itu menyamar sebagai istri pemilik warung dalam kompleks pemukiman.
Dalam pertempuran Medan Area, Belanda menebar ratusan mata-mata ke pihak tentara Republik bahkan hingga ke pedalaman Aceh. “Sebagiannya terdiri dari wanita-wanita ayu yang mampu meringkus yang sudah mati di depan,” ujar Jakobi.

Penulis : Martin Sitompul
Sudah diterbitkan oleh: Historia.id (29 Agustus 2017)

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar